Catatan Altina Anindya Arif

Makasih Kupa Kuma

Nebulizer

on February 23, 2013

Aku pilek sudah hampir seminggu. Tiap malam aku batuk berat hingga muntah dan hidungku pun tersumbat sehingga susah bernapas. Kupa dan Kuma sudah memberikanku uap air setiap malam namun pilekku tak kunjung sembuh. Kemarin aku dibawa ke dokter langgananku. Setelah dicek, aku didiagnosa pilek dan banyak lendir di tubuhku. Itulah sebabnya aku muntah-muntah saat batuk karena lendirnya tidak dapat aku keluarkan sendiri dan keluar lewat muntah.

Aku pun disarankan untuk dinebulizer. Nebulizer adalah memberikan obat berupa uap air agar hidungku tidak tersumbat dan tidurku pun tidak terganggu.  Aku langsung dibawa ke ruang nebulizer oleh Kupa dan Kuma. Ada seorang petugas dari rumah sakit yang membantuku dalam nebulizer tersebut.

Saat aku mau dinebulizer, aku pun ditidurkan di tempat tidur yang disediakan dengan bantal. Aku mulai menangis keras sejak dimulainya nebulizer. Ada sebuah masker yang ditempelkan di wajahku agar uapnya dapat kuhirup dengan sempurna. Aku hanya menangis, menangis dan menangis. Kupa sempat bertanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk hal ini. Petugas tersebut menjawab 10 menit.

Setelah 10 menit menangis dan beberapa kali terbatuk dan mengeluarkan dahak, nebulizer pun selesai. Punggungku ditepok-tepok oleh petugas rumah sakit sambil aku digendong oleh Kuma. Setelah itu aku pun berhenti menangis dan keluar dari ruangan nebulizer tersebut.

Esok harinya, pagi ini, aku kembali lagi ke ruang yang sama. Kali ini bersama Kupa dan Yangti. Sekali lagi aku menangis begitu mulai ditidurkan di bantal. Kali ini aku sempat memuntahkan susu yang baru aku minum beberapa saat sebelumnya. Uniknya, ada kakak kecil yang sedang antri untuk menunggu giliran yang sama denganku. Saat aku keluar ruangan, aku mendengar sayup-sayup tangisan kakak kecil tersebut. Rupanya nebulizer tidak enak karena setiap bayi pasti nangis.

Setelah nebulizer hari ini aku pun tertidur di pangkuan Yangti. Yang aku tahu, saat aku terbangun, hari sudah siang dan aku lupa sudah berapa kali aku diberikan susu oleh Yangti. Menurut Yangti aku tidur lebih dari 3 jam siang itu.

Nebulizer memang melelahkan. 10 menit waktu aku habiskan menangis keras. Itulah yang membuatku tidur nyenyak, di samping hidungku saat ini mulai membaik sehingga penyumbatan pun semakin berkurang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *